Beranda DAERAH STRUKTUR SOSIAL MASYARAKAT NELAYAN DI PESISIR KOTA BALIKPAPAN

STRUKTUR SOSIAL MASYARAKAT NELAYAN DI PESISIR KOTA BALIKPAPAN

38

NATUNA, KepriKabarDaerah.com– Struktur sosial yang terbentuk dalam kehidupan nelayan dibangun oleh faktor-faktor yang kompleks.

Faktor-faktor tersebut tidak hanya berkaitan dengan fluktuasi musim ikan, keterbatasan sumberdaya manusia, keterbatasan modal, ataupun jaringan perdagangan ikan yang eksploitatif, tetapi termasuk juga dampak negatif modernisasi perikanan.

Kebijakan pemerintah baik berupa motorisasi, pengenalan alat tangkap modern, serta pemberian kredit usaha nampaknya belum mampu sepenuhnya mengatasi kesulitan sosial ekonomi masyarakat nelayan.

Pada banyak kasus modernisasi perikanan, peningkatan pendapatan karena motorisasi dan inovasi alat tangkap hanya dinikmati sekelompok nelayan pemilik modal, sedangkan nelayan kecil tidak banyak yang mampu menikmati manfaat dari proses modernisasi tersebut.

Masyarakat nelayan Manggar di pesisir Kota Balikpapan pada awalnya merupakan komunitas yang kecil yang masih berada pada tahapan perkembangan awal struktur masyarakat pesisir, yaitu tahapan hunting dan fishing sederhana tanpa motorisasi dan jaringan pemasaran di wilayah lokal saja.

Kawasan Pesisir Kota Balik Papan, Kalimantan Timur

Seiring dengan perkembangan waktu, komunitas nelayan di pesisir Balikpapan mengalami perkembangan struktur sosial dengan datangnya nelayan migran (pendatang) dari suku Bugis, Madura, Jawa, Sunda dan NTT serta perubahan teknologi yang diikuti dengan meningkatnya kompleksitas relasi kerja.

Meskipun mengalami perubahan struktur sebagai dampak pengaruh faktor-faktor eksternal tersebut, secara umum dapat dikatakan struktur masyarakat nelayan pada wilayah ini masih tetap berada pada fase hunting dan fishing sederhana.

Maksudnya masyarakat di daerah ini dalam kegiatan menangkap ikan sifatnya masih sederhana.

Masyarakat nelayan di pesisir Balikpapan juga belum menerapkan teknologi budidaya perikanan laut sebagai respon atas sifat sumberdaya perikanan yang terus bergerak.

Mereka juga belum menerapkan teknologi pengolahan hasil tangkap dengan standar produk yang terkontrol dengan baik, sehingga usaha pengolahan yang ada masih sederhana dan umumnya dengan skala usaha yang terbatas.

Basis utama ikatan komunalnya adalah pola relasi kerja dalam mengeksploitasi sumberdaya alam perikanan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan hidup.

Basis pola kerja ini kemudian menempatkan faktor kepemilikan modal dan alat produksi usaha perikanan sebagai faktor utama pembentuk pelapisan sosial.

Secara alamiah, proses pelapisan sosial ini kemudian diikuti dengan pembedaan status dan peran sosial serta perangkat aturan kerja yang bersifat khas.

Berdasarkan hasil penelitian pada masyarakat nelayan di Kota Balikpapan khususnya Kelurahan Manggar Baru terdapat struktur masyarakat nelayan yang terbentuk berdasarkan penguasaan dan kepemilikan modal dan alat produksi.

Pada masyarakat nelayan di pesisir Balikpapan, pelapisan sosial yang terbentuk terdiri atas tiga strata yaitu ponggawa atau nelayan pemilik modal, nelayan pemilik kapal dengan status sosial sedang/menengah dan nelayan buruh.

Ponggawa atau nelayan pemodal (atau sebutan lainnya disebut touke) sebagai strata pertama dengan status sosial yang paling tinggi.

Ponggawa merupakan nelayan dengan kepemilikan modal finansial dalam skala besar dan alat produksi yang lengkap. Ponggawa ini menyediakan modal untuk kebutuhan operasional penangkapan dan jika diperlukan juga menyediakan kapal dan alat tangkap yang dibutuhkan oleh nelayan yang bekerja sama dengannya.

Umumnya ponggawa tidak terlibat langsung dengan kegiatan penangkapan dilaut sehingga sering juga disebut dengan juragan darat.

Ponggawa juga merangkap fungsi sebagai pedagang pengumpul yang membeli ikan hasil tangkapan dan kemudian menjualnya kembali melalui proses pelelangan di TPI ataupun melalui jaringan pemasaran sendiri ke luar daerah.

Ponggawa dalam struktur sosial masyarakat nelayan di pesisir Balikpapan juga merangkap peran sebagai “pedagang pengumpul” yang berfungsi menjamin penjualan/pemasaran hasil tangkapan.

Sifat produk perikanan yang mudah rusak dan keinginan nelayan untuk segera memperoleh uang dari hasil penjualan ikan tangkapan menjadikan fungsi pengumpul ini sebagai mata rantai terpenting dalam seluruh aktivitas perdagangan ikan di desa nelayan ini.

Setelah mengalami proses sortir di ponggawa, barulah ikan hasil tangkapan itu dijual ke pedagang pengecer melalui atau tanpa mekanisme pelelangan di TPI, dan ada pula yang diawetkan dengan es sampai jumlahnya cukup banyak untuk dikirim ke mitra dagang ponggawa di luar daerah seperti ke Surabaya, Jakarta ataupun ke Makassar.

Nelayan pemilik kapal sebagai strata ke dua dengan status sosial sedang/ menengah. Nelayan ini memiliki alat produksi berupa kapal dan alat tangkap, tetapi biasanya tidak memiliki cukup modal finansial untuk kebutuhan operasional melaut sehingga adakalanya masih memerlukan bantuan pinjaman modal maupun input produksi dalam bentuk natura dari ponggawa.

Nelayan pemilik ini masih terlibat langsung melakukan operasi penangkapan di laut dengan dibantu oleh nelayan buruh ataupun tanpa nelayan buruh.

Ketiga adalah nelayan buruh sebagai strata ketiga dengan status sosial paling rendah.

Nelayan buruh ini memiliki modal tenaga sebagai sumbangan dalam struktur kerja kelompok, tetapi tidak memiliki modal finansial, kapal atau alat tangkap.

Masyarakat nelayan di pesisir kota Balikpapan ini memiliki relasi patron-client yang terbentuk di desa nelayan di kawasan pesisir Balikpapan terjadi karena masyarakat menghadapi persoalan kelangkaan sumberdaya alam dan sumberdaya ekonomi yang kompleks dan karakter usaha perikanan yang beresiko tinggi.

Patron-klien (vertikal) dan relasi sosial horisontal di antara mereka merupakan urat-urat struktur sosial masyarakat nelayan.

Dalam aktivitas ekonomi perikanan tangkap kalangan nelayan di pesisir daerah tersebut misalnya, ketiga lapisan sosial yang ada memiliki peran masing masing dan terikat dalam hubungan kerja sama yang erat.

Secara umum, ponggawa berperan secara ekonomi sebagai seorang patron (atasan) yang membantu client (anak buah: nelayan pemilik kapal dan buruh nelayan) mengakses peluang kerja di sekor perikanan dan menyediakan kebutuhan modal dan natura sebagai sarana produksi.

Struktur sosial yang terbentuk pada komunitas nelayan di wilayah pesisir Balikpapan dapat dikatakan sebagai struktur sosial yang terbuka.

Struktur sosial yang bersifat terbuka ini memungkinkan terjadinya mobilitas secara vertikal maupun horizontal.

Mobilitas vertikal yang mungkin terjadi adalah mobilitas vertikal naik dan turun. Mobilitas vertikal naik terjadi bila nelayan buruh atau nelayan pemilik naik ke strata sosial di atasnya. Pergerakan ini biasanya terjadi jika proses pemupukan modal yang dilakukan oleh nelayan pemilik telah mencukupi untuk beroperasi secara independen atau nelayan buruh telah mampu membeli kapal sehingga mampu memberikan input produksi lain selain layanan jasa tenaga kerja.

Selain berasal dari proses pemupukan modal, tambahan modal dan alat produksi juga dapat berasal dari pelepas uang lain yang berasal dari luar daerah, tetapi kasus ini hampir tidak pernah terjadi.

Sedangkan mobilitas vertikal turun terjadi bila nelayan ponggawa atau nelayan pemilik gagal mengelola usaha perikanannya dengan baik sehingga mengalami kerugian dalam jumlah besar dan harus melepaskan aset usahanya.

Mobilitas horizontal yang terjadi adalah kasus di mana nelayan pemilik dan nelayan buruh pindah menjadi bagian dari kelompok kerja ponggawa yang lain karena pertimbangan kecocokan tertentu.

Struktur sosial dan sistem pelapisan pada masyarakat nelayan di pesisir Balikpapan yang terbuka dan cukup fleksibel dalam memberikan ruang gerak bagi mobilitas individu-individu nelayan yang berkegiatan di dalamnya.

Tidak ada upaya penghalangan atau penolakan secara sengaja atau tidak jujur dalam pengembangan skala usaha dan pemupukan modal sebagai instrumen untuk melakukan mobilitas vertikal naik.

Kompetisi usaha berjalan dengan cukup adil, meskipun memerlukan pengetahuan dan ketrampilan khusus dalam mengelola dan mengembangkan usaha perikanan, mengingat karakter sumberdaya dan lingkungannya yang penuh ketidakpastian.

Selain itu juga tidak ditemukan upaya penolakan secara khusus jika ada pihak lain dari luar komunitas nelayan pesisir Balikpapan untuk ikut berusaha di bidang perikanan dengan pemakaian jenis teknologi dan alat tangkap yang disepakati bersama.

Bagi masyarakat nelayan di wilayah ini juga tidak ditemukan upaya penghalangan untuk melakukan mobilitas horizontal berupa perpindahan nelayan pemilik kapal dan buruh nelayan kepada ponggawa lain selagi ponggawa yang baru tersebut mau dan mampu menyelesaikan keterikatan pinjaman-pinjaman yang dibuat sebelumnya.

Mereka meyakini bahwa ketrampilan dan pengetahuan serta pengalaman yang mereka miliki sebagai hasil proses belajar bertahun – tahun adalah nilai lebih yang akan membantu mereka dalam mengelola usaha sehingga tetap mampu bersaing dengan baik.

Referensi :
Saleha, Qoriah. 2013. Kajian Struktur Sosial Dalam Masyarakat Nelayan Di Pesisir Kota Balikpapan. Jurusan Sosial Ekonomi Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Mulawarman. Jurnal BULETIN PSP. Vol. 21 No. 1. Edisi April 2013. Hal 67-75.

Penulis/Oleh: AHMAD FAJRIAN

Editor :Redaksi