Beranda DAERAH Budaya Masyarakat Pesisir

Budaya Masyarakat Pesisir

122

NATUNA, KepriKabarDaerah.com– Masyarakat pesisir merupakan sekumpulan masyarakat yang hidup bersama-sama mendiami wilayah pesisir membentuk dan memiliki kebudayaan yang khas yang terkait dengan ketergantungannya pada pemanfaatan sumber daya pesisir.

Provinsi kepulauan riau merupakan provinsi yang memiliki laut cukup luas, tidak heran jika hasil laut yang terdapat di kepulauan riau. Banyak masyarakat yang tinggal di pesisir atau di pantai.

Kepulauan Riau juga merupakan tempat transfortasi laut dimana kapal-kapal dari daearh lain maupun negara lain juga ada yang datang di kepuluan riau.

Kepulaun Riau merupakan daerah melayu yang ada indonesia yang terdiri dari dua kota dan lima kabupaten.

Provinsi Kepulauan Riau juga memiliki sosial dan budaya yang unik, setiap kabupaten dan kota memiliki bahasa yang berbeda.

Di daerah kabupaten natuna khususnya banyak penduduk yang tinggal di pesisir pantai maupun di daerah laut hingga cara Berbicara mereka berbeda dengan masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan, nada mereka berbicara juga berbeda dengan masyarakat juah dari laut atau pantai. Nada berbicara mereka agak terdengar bulet “kental” melayu daerah setempat, pada saat mereka berbicara terdengar agak melengking atau keras, walaupun mereka berdekatan antara satu dengan yang lain, hal ini mungkin diakibatkan suara ombak atau suara air laut yang membuat mereka tidak mendengar dengan jelas, hal ini lah yang menyebabkan mereka berbicara seperti berteriak atau melengking.

Kalau mereka berbicara dengan masyarakat daerah jauh dari pesisir yang menggunakan bahasa Indonesia, mereka pasti terdengar canggung, karena mereka berbicara tidak dengan nada kuat.

Sedangkan kebiasaan berbicara kuat itu tidak mudah di hilang oleh masyarakat pesisir karena mereka sudah terbiasa menggunakan nada yang kuat, itubisa dianggap masyarakat yang jauh dari persisir sebagai suatu bentuk kemarahan. Mereka berbicara dengan nada yang keras dan melengking supaya mereka bisa berinteraksi sutu sama lain tanpa hambatan dalam proses interaksi kepada orang lain. Mereka berbicara dengan orang lain seperti berteriank, pada saat mereka berbicara dengan orang lain mereka merasa suara mereka tersebut sudah pelan padahal tidak.

Bahasa yang digunakan masyarakat pesisir agak berbeda dengan masyarakat kota, misalnya, kata bahasa indonesia “KAMU”, (Tanjungpinang = Nko ), (Anambas = Wak), (Natuna= Awak), (Lingga= Ikak ), (Tanjungbalai karimun= Mike), ( Batam= Kamu), dan (Bintan=kau).

Hal ini saja akan membuat masyarakat yang mendengar akan merasa aneh karena mereka tidak pernah dengan malahan berbeda artinya didaerah mereka.
Pada masa sekarang ini kita yang berlingkungan perkotaan pergi ke wilayah perdesaan persisir atau pantai pasti ingin orang persisir yang mengikuti budaya atau bahasa kita,itu adalah hal yang salah.

Mengapa salah?, karena kehidupan sosial masyarakat pesisir pasti merasa binggung, heran dan bahkan merasa asing dengan bahasa yang orang kota gunakan, mungkin berbeda arti di masyarakat setempatnya.

Hal ini perlunya pemahaman, kita orang di perkotaan harus mengikuti dan memahami budaya yang ada diwilayah persisir tersebut, bukan sebaliknya.

Masyarakat pesisir selain memiliki budaya dan bahasa yang unik, masyarakat pesisir juga memiliki mata pencaharian pada umumnya sebagai nelaya, mencari rezeki dari laut walupun sekuat apapun ombak mereka tetap melaut, panas terik dan bahaya mereka tidak hiraukan demi untuk anak mereka.

Terkadang mereka melaut tidak mendapat hasil pada saat pulang melaut, mereka melaut kalau tidak dapat ikan di laut dangkal mereka pergi ke laut yang dalam. Kalau gelombang kuat mereka tidak bisa kelaut hal itu bisa terjadi sampai berminggu-minggu bahkan sampai satu bulan, namun mereka tidak pernah mengeluh.

Masyarakat pesisir memanfaatkan laut sebaik-baik mungkin untuk memenuhi kebutuhan mereka dan sekaligus kebutuhan masyarakat yang jauh dari pesisir atau laut.

Dengan hal ini penangkapan ikan semakin susah didapatkan, nelayan memiliki ide baru demi untuk memenuhi kebutuhan mereka dan masyarakat yang jauh dari pesisir mereka membuat kelong/bagan apung maupun kelong tancap untuk menangkap ikan bilis atau tri, sotong/cumi-cumi dan ikan pelagis lainya yang bisa di tangkap menggunakan alat tangkap kelong tersebut. Akan tetapi masyarakat pesisir pasti menggunkan alat tradisional dan masih belum menggunkan teknologi.

Hal ini kurangnya pendekatan pemerintah terhadap masyarakat pesisir karena susahnya berkomunikasi dan bersosial terhadap budaya masyarakat pesisir.

Dengan adanya teknologi yang diterapkan pemerintah contoh nya alat tangkap dan juga armada penangkapan ikan.

Akan tetapi bagi nelayan pesisir pasti merasa asing dan beranggapan mendapatkan merugikan dan mengurangi pendapatan hasil pendapatan mereka.

Salah satu pengahambat program pemerintah ialah kurangnya pemahaman dan informasi dari pemerintah terhadap nelayan masyarakat pesisir.

Untuk mensejahterakan nelayan masyarakat pesisir perlunya pendekatan pemerintah terhadap masyarakat pesisir dengan cara mengikuti dan memahami budaya masyarakat itu sendiri dengan perlahan, maka dengan cara ini kita bisa mengetahui seperti apa masyarakat itu sendiri dan juga keluhan mereka demi kesejahteraan nelayan persisir itu sendiri.

Penulis : Asmadi Hasan

Editor:Redaksi